Hari Ini:

Sabtu 22 Jul 2017

Jam Buka Toko:

Jam 08.00 s/d 18.00 WIB

SMS/Whatsapp:

08157988779

BB Messenger:

7E7424C0

Email:

2ndchoices@gmail.com

Layanan Online:

Testimoni

Pembayaran Melalui

Lopis Raksasa

25 October 2011 - Kategori Blog

Syawalan merupakan tradisi khas masyarakat Pekalongan yang digelar secara rutin tiap tahunnya. Tradisi turun-temurun ini tepatnya diselenggarakan setiap tanggal 7 Syawal atau sepekan setelah hari raya Idul Fitri. Pesta selalu ditandai dengan ritual pemotongan kue lopis, yakni penganan berbahan baku beras ketan, dalam ukuran raksasa. Lopis rakasasa yang menjadi simbol syawalan ini direbus dengan dandang raksasa selama tiga hari tiga malam, dengan biaya pembuatan yang dihimpun dari para donatur, iuran warga dan bantuan dari Pemkot Pekalongan.

Atraksi tahunan yang mampu menyedot ribuan wisatawan lokal tersebut berlangsung di Kelurahan Krapyak. Oleh karenanya masyarakat di kota penghasil batik ini juga sering menyebutnya dengan istilah Krapyakan. Menurut salah satu tokoh masyarakat, tradisi ini sudah dimulai sejak 130 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1855. Pertama kali dicetuskan oleh para ulama setempat dalam rangka siar Islam, sekaligus sebagai wujud perhatian warga yang kurang mampu.

Biasanya para pengunjung sudah berdatangan sejak pagi hari untuk bersilaturahmi dengan saudara maupun teman. Di acara syawalan ini pengunjung dapat menikmati makanan dan minuman gratis yang disediakan warga setempat. Selain untuk bersilaturahmi, kedatangan warga ke perayaan syawalan tidak lain juga untuk menyaksikan pemotongan lopis raksasa yang memiliki berat 600 kilogram dengan tinggi 150 centimeter serta lebar diameter mencapai 45 centimeter. Setelah dilakukan doa bersama yang dipimpin ulama setempat, lopis raksasa ini menjadi rebutan para pengunjung. Menurut kepercayaan, kue lopis ini dipercaya bisa mendatangkan berkah serta mendekatkan jodoh bagi pengunjung yang masih lajang. Bagi masyarakat Pekalongan, khususnya warga Kampung Krapyak, lopis yang terbuat dari beras ketan yang lengkat tersebut dimaknai sebagai perekat tali persaudaraan.

[ dikutip dari berbagai sumber ]

, , ,