Hari Ini:

Kamis 27 Jul 2017

Jam Buka Toko:

Jam 08.00 s/d 18.00 WIB

SMS/Whatsapp:

08157988779

BB Messenger:

7E7424C0

Email:

2ndchoices@gmail.com

Layanan Online:

Testimoni

Pembayaran Melalui

Ingin Sukses? Siaplah Berubah!

18 January 2011 - Kategori Blog

Biasanya, ketika seorang karyawan sudah merasa menemukan pola kerja yang paling tepat dan nyaman, ia akan terus mengulang pola itu dalam menjalani pekerjaannya dan kemudian menjadikannya sebuah kebiasaan.

NYAMAN HIDUP DENGAN TRADISI
Menurut Rhenald Kasali; kita yang bekerja di organisasi besar, cenderung terbelenggu oleh kebiasaan. Ketika ditanya, “Mengapa Anda bekerja seperti ini?” Jawabnya, “Karena kemarin kita bekerjanya juga seperti ini”. Itulah salah satu hal yang sebenarnya membelenggu kita. Mulanya, kita mencari kebiasaan, tetapi lambat laun akan dikuasai oleh kebiasaan. Kalau terbiasa hidup dalam suasana yang rutin, kita mulai menjadi robot yang bergerak secara mekanis, tanpa perlu berpikir dan menggunakan nurani atau perasaan.

Karena kerasnya tekanan, tambah kondisi di luar yang tidak kondusif (misalnya sulit mencari pekerjaan lain), seseorang akan lebih memilih bergabung dengan ‘rezim lama’, sehingga perilakunya akan sama dengan yang lain. Mereka yang berkepribadian lebih kuat, cenderung memilih keluar dan mencari karier di tempat lain.

PENTINGNYA CHANGE DNA
Rhenald Kasali memperkenalkan konsep Change DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) atau DNA Perubahan, yaitu sifat-sifat dasar yang membentuk diri seseorang sehingga ia mampu melihat dan bergerak melakukan perubahan. Kita mungkin sudah memilikinya, bahkan sedemikian besar dan kuat. Namun persoalannya, untuk bisa maju yang diperlukan bukan hanya sekadar DNA. Rhenald menegaskan agar kita perlu terus mengasahnya, menghadapi berbagai cobaan, terbuka terhadap pengalaman dan tekanan, serta terus membangun diri.

Ada 5 unsur pembentuk sifat perubahan, yaitu OCEAN yang diuraikan sebagai berikut:

Openness to experience (keterbukaan pikiran, khususnya terhadap hal-hal baru, hal-hal yang dialami dan dilihat dengan mata sendiri). Orang yang punya cara berpikir terbuka cenderung imajinatif dan kreatif, lebih menyukai keragaman dan hal-hal baru, punya banyak pilihan dan minat, mengutamakan hal-hal baru yang orisinal dan fleksibel.

Conscientiousness (keterbukaan hati dan telinga). Orang yang menghargai pentingnya perubahan adalah orang yang membuka hati dan telinga. Mereka yang punya keterbukaan hati yang tinggi cenderung terpola, metodologis, terorganisasi, menghargai waktu, dapat diandalkan, punya disiplin diri, ada dorongan kuat, gigih, dan self motivated.

Extroversion (keterbukaan diri terhadap orang lain, kebersamaan, dan hubungan-hubungan). Orang yang introver cenderung mengurung diri, memisahkan diri dari orang banyak, hanya mampu bekerja sendiri, dan menikmati kesendirian. Sementara orang yang ekstrover cenderung senang berkawan dan bekerja dalam kelompok, lugas, berenergi, percaya pada orang lain, percaya diri, dan penuh keberanian.

Agreeableness (keterbukaan terhadap kesepakatan, tidak mudah memilih konflik). Kesepakatan adalah unsur terpenting dalam setiap proses perubahan. Yang terpenting dalam unsur ini adalah adanya keinginan besar untuk melakukan pengorbanan, menyerahkan wewenang kepada pihak-pihak tertentu, dan memercayai orang lain. Orang yang punya keterbukaan unsur ini cenderung sederhana dan kooperatif.

Neuroticism (keterbukaan terhadap tekanan-tekanan). Kalau Anda sudah terbiasa menghadapi tekanan, mungkin Anda tidak akan terlalu sensitif. Tapi, bagi orang yang tidak biasa, tekanan dapat mengganggu keseimbangan emosi. Orang yang terbuka terhadap tekanan cenderung kalem, tidak kenal takut, mampu mengendalikan diri, resisten terhadap godaan, dan tidak mudah cemas.

PEMIMPIN PERLU JADI PIONIR PERUBAHAN
Rhenald Kasali menegaskan, pemimpin bukan anak buah. Dialah yang bertanggung jawab. Dalam situasi yang sulit, ia bukan sekadar pemangku jabatan, melainkan seseorang yang menciptakan gerakan dengan kekuatan pengaruhnya. Untuk mendukung perubahan, orang harus berani keluar dari tradisi dan me-recode dirinya untuk jadi pemimpin. Dan, para manajer SDM punya kewajiban mendukung proses recode ini. Caranya macam-macam, antara lain memberikan pelatihan yang dibutuhkan untuk memoles kepribadian dan cara berpikir baru.

Anda mungkin telah mengenal istilah daily management, yaitu aktivitas sehari-hari seorang manajer untuk terus memelihara dan memperbaiki. Namun, jika kita hanya fokus pada hari ini dan hebat dalam daily management, kita bisa gagal di esok hari. Sebab, ada satu tugas penting lainnya yang sering terlupakan, yaitu menciptakan masa depan.

Inilah tugas seorang pemimpin untuk berpikir, mengubah apa yang sudah biasa dilihat, mengubah persepsi, dan membawa kita ke masa depan baru. Itu berarti, jika kita seorang pemimpin, kita bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas tersebut. Dan, untuk itu, diperlukan kreativitas. Berarti, sudah saatnya para pemimpin melakukan recode, mengode ulang kode-kode DNA mereka agar menjadi lebih terbuka, lebih responsif, dan lebih kreatif.

Seorang pemimpin perlu mengajak orang yang dipimpinnya untuk kembali berpikir.

[ dikutip dari: Rhenald Kasali ]

Search Amazon.com for Rhenald Kasali

, , ,