Hari Ini:

Kamis 27 Jul 2017

Jam Buka Toko:

Jam 08.00 s/d 18.00 WIB

SMS/Whatsapp:

08157988779

BB Messenger:

7E7424C0

Email:

2ndchoices@gmail.com

Layanan Online:

Testimoni

Pembayaran Melalui

E-Commerce (1/3)

09 February 2011 - Kategori Blog

Apakah Itu E-Commerce?

Umumnya orang berfikir e-commerce adalah online shopping, belanja di internet, atau membeli barang melalui Web.

Terus terang Web shopping/online shopping sebetulnya hanyalah sebagian kecil sekali dari belantara e-commerce. Web shopping, termasuk di dalamnya transaksi online stok atau mendownload software langsung dari web yang sebetulnya menghubungkan bisnis ke konsumen ini, hanyalah sekitar 20% dari total e-commerce. Sedang sebagian besar sebetulnya lebih banyak berupa hubungan dagang bisnis ke bisnis yang memudahkan proses pembelian antar perusahaan. Banyak orang berharap supaya terjadi transaksi mikro yang memungkinkan orang membayar dalam bentuk recehan – beberapa ribu/ratus rupiah – untuk mengakses content atau game di internet. Transaksi yang sangat hot di e-commerce untuk barang-barang dagangan di internet maupun melalui media elektronik lainnya, menurut Simba Information, adalah produk komputer, produk konsumer, buku dan majalah, musik dan produk entertainment (audio, video, TV).

Dari berbagai statistik yang ada, tampaknya e-commerce akan semakin marak, terutama di Amerika Serikat tentunya. International Data Corporation pernah memprojeksikan bahwa 46 juta orang amerika akan membeli melalui e-commerce untuk berbagai barang senilai US$16 juta di tahun 2001, dan US$54 juta di tahun 2002. Forrester Research juga pernah memprediksikan sales e-commerce sekitar US$7 juta di tahun 2000. Sedangkan untuk jangka panjang, Morgan Stanley Dean Witter pernah mengestimasikan penjualan melalui e-commerce pada tahun 2005 antara US$21 juta s/d US$115 juta. Tentunya bagi Indonesia yang jumlah pengguna Internet-nya masih sedikit belum sebanyak US, kecuali kalau WARNET-WARNET makin marak, strategi e-commerce akan menjadi lain. Tampaknya yang menjadi hot sekarang ini justru situs-situs berita, seperti kompas.com, detik.com, dan lain sebagainya. Sebuah permulaan yang baik untuk membangun community yang bukan mustahil berlanjut ke focus groups dan e-commerce bisnis ke bisnis.

Apakah Pemerintah Akan Meregulasi E-Commerce?

President Clinton barangkali cukup nekad dengan mengajukan Internet Tax Freedom Act yang ternyata sangat di setujui oleh Senat Amerika Serikat. Undang-undang ini melarang semua negara bagian dan lokal di Amerika untuk memajak informasi & perdagangan melalui Internet. Artinya bangsa Amerika Serikat telah menset Internet sebagai Internet Trade Free Zone. Sebuah ide yang cukup gila barangkali, tapi akan sangat effektif bagi para produsen barang/informasi karena peluang usaha eksport yang mendatangkan banyak devisa ke negara menjadi sangat baik sekali. Logikanya sederhana, orang akan berlomba-lomba untuk membeli barang ke negara lain yang harganya lebih murah.

Bagaimana dengan Indonesia? tampaknya akan menjadi tantangan yang cukup serius bagi orang-orang pajak di Indonesia karena transaksi-transaksi yang bersifat intangible melalui Internet sangat sulit di deteksi. Semakin hari semakin banyak transaksi jenis ini terjadi di Internet. E-Commerce yang melibatkan pemindahan barang, cukup mudah dideteksi di pelabuhan atau bandar udara sehingga dapat dideteksi oleh beacukai/custom, selain itu rasanya sulit.

Alangkah cantiknya negara ini kalau sebagian besar bangsanya bisa menjadi produsen di Internet dan melakukan transaksi dagang/eksport ke Internet. Tampaknya banyak orang di Indonesia yang belum sadar bahwa negara tempat kita berdiri sangat banyak menjanjikan hal-hal yang diminati oleh bangsa lain, apakah itu kekayaan alamnya, sosial, budaya dll. Contohnya, apakah ada yang pernah berfikir bahwa harga kepompong kupu-kupu adalah US$7/buah-nya? Pak Anshori dari UNILA ternyata sangat jeli melihat hal ini. Masih banyak lagi hal-hal lain yang menarik yang hanya mungkin dilakukan oleh orang Indonesia di Internet.

Seberapa Aman E-Commerce?

Di media massa, cukup banyak berita tentang pembobolan sistem keamanan Internet. Akan tetapi umumnya vendor dan analis komputer berargumentasi bahwa transaksi di Internet jauh lebih aman daripada di dunia biasa.

Sebenarnya sebagian besar dari pencurian kartu kredit yang terjadi disebabkan oleh pegawai sales yang meng-handle nomor kartu kredit tersebut. Sistem e-commerce sebetulnya menghilangkan keinginan mencuri tadi dengan cara mengenkripsi nomor kartu kredit di server perusahaan. Bagi merchants, e-commerce juga merupakan cara yang aman untuk membuka toko karena meminimalkan kemungkinan dijarah, dibakar atau kebanjiran. Hal yang paling berat adalah meyakinkan para pembeli bahwa e-commerce aman untuk mereka. Umumnya pengguna kartu kredit tidak terlalu mempercayainya, tapi para pakar e-commerce mengatakan bahwa transaksi e-commerce jauh lebih aman daripada pembelian memakai kartu kredit biasa. Setiap kali anda membayar menggunakan kartu kredit di toko, di restauran, di Glodok, di Mangga Dua atau melalui telepon 800 – setiap kali anda membuang resi pembelian kartu kredit – anda sebetulnya telah membuka informasi kartu kredit tersebut untuk dicuri.

Sejak versi 2.0 dari Netscape Navigator dan Microsoft Internet Explorer, transaksi dapat di enkripsi menggunakan Secure Sockets Layer (SSL), sebuah protokol yang akan mengamankan saluran komunikasi ke server dan memproteksi data pada saat dikirimkan melalui Internet. SSL menggunakan public key encryption, salah satu metode enkripsi yang cukup kuat saat ini. Untuk melihat apakah sebuah Web site di amankan menggunakan SSL dapat dilihat pada awal URL digunakan https bukan http. Pembuat browser dan perusahaan kartu kredit saat ini mempromosikan sebuah standar tambahan bagi keamanan di namakan Secure Electronic Transaction (SET). SET akan mengenkode nomor kartu kredit yang ada di server vendor di Internet, sehingga nomor kartu kreditnya tersebut hanya dapat dibaca oleh bank dan perusahaan kartu kredit. Artinya pegawai vendor/merchant tidak bisa membaca sama sekali maka kemungkinan terjadi pencurian oleh vendor menjadi tidak mungkin.

Terus terangnya memang tidak ada sistem e-commerce yang bisa menggaransi proteksi 100% kepada kartu kredit anda, tapi kemungkinan untuk dicopet dompet anda di toko online akan jauh lebih rendah dibandingkan di tempat biasa.

…..bersambung ke E-Commerce (2/3)

, , ,